Pentingnya Partisipasi Mahasiswa dalam Pemilu
Banyak mahasiswa yang tidak peduli akan pemilihan umum dan menggunakan haknya untuk menentukan pemimpin Indonesia. Komisi Pemilihan Umum menyatakan bahwa sekitar 30 persen rakyat Indonesia tidak berpartisipasi dalam Pilkada tahun 2015. Sebagian besar pihak yang memutuskan untuk tidak memilih adalah anak muda. Angka golongan putih dalam mahasiswa semakin lama semakin besar. Mereka tidak menyadari dampak satu suara terhadap kepentingan seluruh bangsa Indonesia.
Banyak alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, mahasiswa merasa bahwa tidak ada calon pemimpin yang memiliki hidup yang jujur dan memiliki kemampuan untuk memimpin dengan baik. Banyak rakyat yang mengalami trauma akan pemimpin sebelumnya yang buruk dan tidak sesuai harapan mereka. Contohnya, pada Pilkada 2015 di kota Medan Sumatera Utara, jumlah rakyat yang berpartisipasi hanya 26,88%. Hal ini dikarenakan banyak penduduk yang berpendapat bahwa tidak ada gunanya mereka terlibat dalam pilkada yang kepala daerahnya akan berakhir menjadi seorang koruptor seperti pemimpin sebelumnya. Kedua, banyak orang yang malas untuk mengurus pindah pilih terutama mahasiswa perantau. Mahasiswa berpendapat bahwa syarat yang diperlukan sangat banyak dan rumit.
Seharusnya, mahasiswa perlu melihat dampak besar dari keterlibatan dalam pemilihan umum daripada faktor pengurusan pindah pilih yang susah. Suara dari mahasiswa berpengaruh besar pada masa depan negara. Pada pemilihan umum presiden tahun 2019, 34,4 persen masyarakat Indonesia adalah pemilih berusia 17-34 tahun. Oleh karena itu, hak pilih mahasiswa tidak boleh diabaikan. Partisipasi anak muda juga akan mengurangi jumlah surat suara yang disalahgunakan untuk memilih salah satu calon pemimpin secara sepihak. Pihak yang curang tidak dapat memakai surat yang sudah dicoblos sehingga hasil pemilihan merupakan aspirasi murni dari seluruh rakyat Indonesia.
-Elvira G11180018-
Seharusnya, mahasiswa perlu melihat dampak besar dari keterlibatan dalam pemilihan umum daripada faktor pengurusan pindah pilih yang susah. Suara dari mahasiswa berpengaruh besar pada masa depan negara. Pada pemilihan umum presiden tahun 2019, 34,4 persen masyarakat Indonesia adalah pemilih berusia 17-34 tahun. Oleh karena itu, hak pilih mahasiswa tidak boleh diabaikan. Partisipasi anak muda juga akan mengurangi jumlah surat suara yang disalahgunakan untuk memilih salah satu calon pemimpin secara sepihak. Pihak yang curang tidak dapat memakai surat yang sudah dicoblos sehingga hasil pemilihan merupakan aspirasi murni dari seluruh rakyat Indonesia.
-Elvira G11180018-
Comments
Post a Comment