PERGI KELUAR BATAS

 

Hari ini seisi sekolah dikagetkan dengan jejak kaki dimana-mana, aku tidak peduli karena pasti itu hanya ulah orang iseng.

Aku duduk di bangku sekolah yang masih sepi ini, belum ada siapa-siapa di kelas. Aku suka suasana ini karena aku bisa menghirup udara segar, jika banyak orang pasti sudah berebut oksigen segar ini.

Oh iya, namaku Tari Mentari jadi tidak salah aku sangat bersinar hehehe. Setiap pagi aku selalu berangkat lebih awal, yang aku temui biasanya hanya Pak Bondan penjaga sekolah.

Oh itu Bara sudah datang, ‘Hoiiii, pagi-pagi kok masih lemes gitu sih’ ucapku. Bara merenggangkan tangannya dan menjawab ‘Iyanih, abis begadang semalam nonton bola, gila banget akhirnya Italia menang dong’.

‘Oh ya, seru tuh’ kataku. Bara memang seneng banget nonton bola, kalau ada piala dunia dia ga pernah absen deh. ‘Eh iya Bar, kamu sudah kerja PR Matematika? Nyontek dong’.

Hmmm, ‘kayaknya belum deh, aku lupa tau kalau ada PR nanti kalo si Liza datang aku coba tanya deh karena pasti dia sudah tuh’. Pikirku sambil cemberut, ‘Ih, muka judes gitu mana mau dia kasih PR nya ke kita’.

Tiba-tiba Liza datang dengan muka yang judes, ‘bener kan kata ku, muka nya ga pernah berubah Bar, tetep judes aja tiap hari’. ‘Ah kamu, ga boleh ngejek gitu ahh.’

Bel sekolah berbunyi tanda istirahat. ‘Bar, yuk makan gado-gado di Pak Min’. Sambil menelan ludah Bara mengangguk.

Di kantin hari ini cukup ramai dengan gosip jejak kaki di sekolah tadi pagi dan katanya juga ada soal ujian yang hilang. Aku malas bergosip, tapi karena menyangkut soal ujian aku jadi ikut nimbrung deh.

Semua orang mencurigai bahwa pemiliki jejak kaki itu datang ke sekolah untuk mencuri soal ujian, hmmm ‘ hari gini masih aja mencuri soal ujian’ pikirku aneh.

Gubrakkk, terdengar seseorang terpeleset dengan kuah bakso panas. Semua orang penasaran, kulihat sosok Pak Bondan langsung menolong.

Pak Bondan sangat baik sebagai penjaga sekolah, ia bertanggung jawab dengan setiap tugas nya. Tak heran ia dikenal dengan sosok malaikat di sekolah karena sering menolong kami semua.

‘Tari, yuk balik ke kelas’. Ucap Bara.

Sampai di kelas, aku melihat Liza buru-buru masuk dengan tatapan takut. Banyak keringat yang terlihat menetes.

Bukannya aku bertanya tapi malah curiga, dia seperti menyembunyikan sesuatu dalam tangannya. Aku terus memperhatikan dan melihat sebuah flashdisk di dalam genggamannya.

 Aku yakin itu adalah soal ujian guru yang hilang. ‘ Apakah aku harus lapor ya?’ pikirku.

Selesai kelas aku bergegas datang ke ruang guru dan menjelaskan apa yang aku pikirkan mengenai kecurigaanku kepada Liza. Bu Guru memintaku untuk mencari tahu dahulu sebelum bertindak lebih lanjut.

Besoknya aku menyusun rencana untuk mencari tahu apa yang ada di dalam flashdisk yang dibawa oleh Liza. Aku sudah mengajak Bara untuk membantuku, namun Bara tetap tidak percaya apa yang menjadi kecurigaan ku.

Kata Bara ‘Tari, jangan karena muka Liza itu judes dan pembawaanya cuek lalu langsung curiga sama dia’. Iya deh jawabku singkat.

Hari ini aku tidak pergi ke kantin karena ingin mengecek isi tas Liza, Bara tidak setuju dan dia tetap langsung ke kantin tanpa bicara. ‘Biarlah, toh aku cuman mau mengecek apa isi flashdisknya saja’.

Sudah ketemu, sesegera mungkin aku pergi ke kamar mandi dan membawa laptop untuk mengecek.

Hahhhhh, apa ini. Tidak mungkin, aku terkaget sampai flashdisk terlempar jauh ke lorong luar. Aku bergegas keluar dan menemukan Liza dengan tatapan bingung.

‘kenapa flashdisk ini ada padamu, ini milikku kan? Apa yang sudah kamu lakukan?’

Aku bingung menjawab apa. ‘Maafkan aku Liza, aku curiga padamu kemarin karena sikapmu yang aneh dan aku pikir kamulah pelaku  mengenai soal ujian yang hilang’.

‘Lalu kamu sudah melihat isi flashdisk ini?’ Tanya Liza

Aku hanya mengangguk.

‘Kita harus menutupi kejadian ini karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Pak Bondan. Kasihan beliau jika harus dipecat dari sekolah ini karena mencuri soal ujian’. Ucap Liza dengan tegas.

Aku terheran dengan perkataan Liza barusaha menolong Pak Bondan sangat berbeda dengan kepribadian Liza yang aku lihat sehari-hari. Benar kata Bara bahwa kita tidak boleh melihat orang hanya dari visual saja,

 Namun aku tidak ingin menutupi kebohongan. ‘Bagaimana jika menemui Pak Bondan untuk menanyakan langsung, karena ini adalah tindakan kriminal.

 Liza setuju dengan syarat kita tidak melaporkan kejadian ini jika belum tahu alasan Pak Bondan.

Aku terkaget dengan setelah bertemu Pak Bondan, ia melakukan ini karena terpaksa. Anaknya sangat butuh berobat.

 Bara menawarkan Pak Bondan untuk mencuri soal tersebut agar dapat mendapatkan biaya pengobatan. Aku dan Liza bingung, apa yang harus kita lakukan.

Bara yang aku kenal tidak seperti kelihatannya, Aku kecewa sungguh aku kecewa. Aku tetap harus melaporkan ini sebagai bentuk tanggung jawabku mengetahui sebuah kebenaran.

Liza setuju, dan kami melaporkan hal ini dengan harapan semua orang yang terlibat kasus ini dapat dijadikan pembelajaran hidup.

Bara di keluarkan, dan Pak Bondan juga dipecat. Kesalahan tetaplah kesalahan, dan kejujuran juga penting untuk dilakukan.

Aku tidak membenci Pak Bondan dan Bara, aku mengasihi mereka namun menegur juga atas kesalahan mereka.

Sekarang aku berteman dengan Liza yang dulu kuanggap judes, Aku melihat banyak perubahan Bara di sekolah Baru dan juga Pak Bondan yang sudah bekerja di sekolah lain dan anaknya sudah sehat.

Comments

Popular posts from this blog