Nasionalisme dan Mahasiswa 2
Toleransi adalah hal yang mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan. Bagi beberapa kaum minoritas, baik suku, agama maupun ras, terkadang merasa tidak diperlakukan adil. Mereka merasa lebih banyak berkorban untuk rela melakukan toleransi terhadap kaum mayoritas. Memang dibutuhkan kebesaran hati dan kehendak yang kuat untuk melakukan hal tersebut. Apalagi di kalangan mahasiswa yang memiliki darah muda dengan emosi yang rawan meledak-ledak. Karena dalam negara yang cukup kompleks seperti Indonesia, toleransi sangat dibutuhkan. Dahulu ketika jaman penjajahan para pahlawan kita sudah memberikan contoh yang baik tentang toleransi. Mereka tidak peduli meskipun berasal dari suku, agama, ras, dan keturunan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu Indonesia merdeka. Mereka bisa saling bertoleransi dengan cara saling tolong-menolong. Namun sayangnya, nilai ini mulai luntur. Buktinya banyak berita yang muncul tentang konflik antar agama dan perkelahian antar suku. Padahal hal tersebut terkadang terjadi karena hal sepele. Gengsi untuk bertoleransi.
Setelah berhasil melakukan toleransi. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan selanjutnya adalah integrasi. Namun sayangnya, banyak orang tidak mengerti apa itu integrasi. Integrasi merupakan penyatuan segala unsur yang berbeda. Ketika sudah disatukan bukan berarti kehilangan ciri khas dari keunikan masing-masing individu. Melainkan membentuk satu ciri khas yang baru. Sebagai mahasiswa untuk berintegrasi terkadang sulit karena merasa takut. Takut merasa aneh jika berelasi dengan orang yang berbeda suku, agama dan budaya dengan orang lain. Atau sebelumnya sudah memiliki pemikiran yang buruk tentang orang tersebut. Inilah yang dinamakan "tak kenal maka tak sayang". Maka untuk dapat berintegrasi dengan mahasiwa yang berbeda latar belakang, seorang mahasiswa harus terlebih dahulu mengenalnya.
Untuk melakukan dua pekerjaan rumah yaitu toleransi dan integrasi, maka mahasiwa butuh wadah untuk berlatih. Dalam sebuah lembaga universitas, pasti memiliki organisasi. Organisasi inilah wadah yang tepat untuk mahasiswa dapat berlatih bertoleransi dan berintegritas. Namun, tidak semua organisasi dapat dijadikan wadah untuk melakukan hal tersebut. Organisasi yang dapat dijadikan tempat berlatih adalah organisasi yang anggotanya bersifat umum. Bukan merupakan sebuah komunitas yang cenderung memiliki latar belakang yang sama. Atau mahasiswa juga dapat membentuk organisasi itu sendiri seperti organisasi mahasiswa gabungan antar pulau Sumatera, Jawa dan Maluku. Maka dalam komunitas ini seorang mahasiswa pasti dapat belatih bertoleransi dan berintegritas karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dan harus bekerja sama dalam sebuah organisasi. Sehingga Indonesia dapat meminimalisir kasus yang disebabkan oleh tidak berintegrasi dan intoleran, paling tidak di kalangan mahasiswa.
Comments
Post a Comment